23 Januari 2018

Ridhailah Rupa dan Bentuk Tubuhmu

Inilah Abdullah bin Mas'ud, sahabat Nabi yang agung. Allah telah menjadikannya bagus dalam kekurusan tubuhnya dan kekecilan betisnya. Namun demikian, dia lebih berat di sisi Allah daripada gunung Uhud.

Suatu waktu dia memetik sebatang siwak dari pohon arok. Angin bertiup dan menyingkapkan kainnya, maka orang - orang pada tertawa. Rasulullah bersabda, "Apa sebab kamu sekalian tertawa?" Mereka menjawab "Wahai Nabi Allah, sungguh kecil betisnya." Maka Rasulullah bersabda, "Demi Dzat yang diriku ada dalam genggamanNya, sungguh keduanya lebih berat dalam timbangan daripada gunung Uhud." HR. Ahmad.

Meskipun dengan kecil tubuhnya dan kurus badannya, ternyata Rasul yang mulia memasukannya sebagai pembaca Al-Quran yang agung, bahkan yang paling terkenal diantara mereka. Rasulullah bersabda, "Barangsiapa ingin mendengarkan bacaan Al-Quran yang segar sebagai mana siturunkan, maka bacalah dengan bacaan Ibnu Ummi Abd." HR. Ahmad.

Jika kamu ingin kebahagiaan yang sejati, maka ridhailah rupa dan bentuk tunuhmu yang telah Allah ciptakan.

27 Desember 2017

Rumput Tetangga Lebih Hijau, Benarkah ?

Rumput Tetangga Lebih Hijau, Benarkah ?

Pernah punya pikiran seperti ini ;

"Kenapa yaa kerjaan saya gak sebagus dia, pasti gaji nya lebih besar?"

Atau yang seperti ini ;

"Saya cuma bisa traveling di dalam kota saja, kalo dia seru banget udah keliling indonesia, bahkan keluar negeri".

Mungkin juga yang seperti ini ;

"Usaha dia berkembang banget ya, saya kok masih gini gini aja!"


Temen-temen pernah dengar kalimat "Rumput Tetangga Lebih Hijau" seperti di atas ? Kalo saya pernah banget 😃.

Tapi, temen temen tau gak, ternyata kita sebagai muslim dilarang untuk mengeluh terhadap keberhasilan orang lain. Kenapa ? Karena Allah melarangnya dalam Al-Quran, yaitu dalam surat An-Nisa ayat ke 32 ; 

“Dan janganlah kamu iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagiaan yang lain. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".

Jadi kalo temen-temen lagi cemburu dengan kehidupan orang lain, inget aja ayat ini, dan katakan "sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik."

Berlalu, Katakan Allah sudah takdirkan dan sudah terjadi. Buka lembaran baru yang lebih baik.

Semoga bermanfaat 😊

20 Februari 2017

Berhentilah Mencari Pasangan Yang Sempurna

Ada seorang pemuda yang telah sampai usia saat ia merasa harus mencari pasangan hidup. Jadi ia mencari-cari gadis sempurna di seluruh negeri untuk dinikahi. Setelah berhari-hari, berminggu-minggu mencari, ia bertemu dengan gadis yang sangat cantik-jenis gadis yang bisa menghiasi sampul majalah perempuan bahkan tanpa make-up atau kosmetik! 

Namun, meski dia kelihatan sempurna, pemuda itu tak bisa menikahinya. Sebab gadis itu tidak bisa masak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya. Lalu ia mencari lagi, selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan akhirnya ia menemukan gadis yang bahkan lebih cantik lagi, dan kali ini masakan gadis itu luar biasa lezat-lebih baik dari yang bisa Anda dapatkah di restoran terbaik di negeri ini, bahkan lebih baik dari yang bisa Anda dapatkan dari restoran keluarga. Gadis ini bahkan menjalankan usaha restorannya sendiri! Wow hebat sekali bukan. 

Namun pemuda ini tak bisa menikahinya pula. Sebab kekurangan gadis itu adalah dia bodoh. Dia tak bisa menjalin percakapan sama sekali, sama sekali tidak cerdas. Dia belum menamatkan pendidikan, segala yang ia tahu cuma memasak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya. 

Maka ia mencari selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga ia akhirnya menemukan gadis yang satu ini! Ia begitu cantik, masakannya melebihi restoran bintang lima, bahkan ia punya tiga restoran sendiri: ala Korea, ala Jepang dan ala Italia. Dan ia begitu cerdas, ia punya dua gelar doktor, pengetahuannya begitu luas, bisa menjalin percakapan begitu hebat, begitu baik, begitu perhatian. Ia sempurna! 

Tapi, pemuda ini tak bisa menikahinya. Sebab gadis ini mencari pria yang sempurna!

25 Desember 2016

Difabel Cantik Peraih Medali Perunggu Paralimpiade


Amy Purdy 

Tidak selamanya penyandang disabilitas dipandang negatif karena kekurangannya Meski harus dibantu kaki palsu, wanita ini justru bisa berprestasi. Malah bisa mengemudikan sebuah mobil balap! 

Toyota memilih atlet paralympic Amerika Amy Purdy untuk mengemudikan mobil Toyota Camry. Camry itu akan menjadi mobil pemandu balapan di Daytona 500. Toyota Motor Sales (TMS) Amerika Serikat dan Daytona International Speedway mempercayai jasa Purdy untuk menunggangi Toyota Camry terbaru yang telah didesain ulang. 

"Ini menjadi hal yang menarik dalam hubungan saya dengan Toyota. Sebagai penggemar balap, saya senang bisa diundang untuk menjadi pengemudi kehormatan Pace Car di balapan terbesar dari musim NASCAR, Daytona 500," kata Purdy seperti dikutip dari laman resmi Toyota, Jumat 20/2/2015 tahun lalu.

"Ini adalah kesempatan lain untuk mencoba sesuatu yang baru dan berani dalam hidup saya sendiri. Saya tidak sabar untuk mengunjungi atlet Toyota lainnya dan bergabung ke dunia mereka dengan mengemudi Camry," tambahnya. 

Berbagai prestasi sudah ditoreh Purdy selama hidupnya. Purdy kehilangan kedua kakinya kpada usia 19 tahun akibat meningitis. 

Meski dengan segala keterbatasannya itu wanita asal Las Vegas ini sudah tiga kali menjadi juara Piala Dunia Para-Snowboard. Selain itu, ia telah mendirikan organisasi nirlaba Adaptive Action Sports dan muncul sebagai finalis 'Dancing with the Stars' pada 2014. Terakhir, Purdy terlihat di iklan televisi Toyota selama Super Bowl 2015. 

"Amy adalah seorang atlet yang luar biasa dan dia adalah duta yang luar biasa untuk Toyota. Sangat menyenangkan bahwa dia akan bergabung dengan kami di Daytona dan menjadi sopis pace car resmi untuk The Great American Race. Amy adalah seorang penuh kerja keras, tekad dan mengatasi rintangan yang luar biasa sehingga masuk akal untuk memberukan kesempatan mengikuti Daytona 500 dengan menggunakan Toyota Camry," ujar Wakil Presiden Marketing dan Performa Toyota Motor Sales Amerika Serikat.

Sumber : Kompas

21 September 2016

Arif Setyo Budi

Arif Setyo Budi
Arek Malang yang satu ini memang sangat layak untuk diapresiasi. Keadaan Arif Setyo Budi yamg hanya memiliki satu kaki tidak menyurutkan langkahnya untuk terus menekuni tarian Breakdance yang telah 7 tahun diyekuninya.

Kecelakaan kerja yang terjadi tanggal 11 September 2007 di tempatnya kerja sama sekali tidak memutus harapan Arif untuk terus melanjutkan kegemarannya sebagay b-boy. Pada tanggal tersebut Arif kehilangan kaki kanannya sampai paha atas karena terpotong mesin plastik di tempatnya kerja, salah satu pabrik plastik di Sidoarjo. Tapi rasa cintanya terhadap tarian jungkir balik yang telah ditekuninya sejak SMK sama sekali tidak berkurang dan dia tetap memutuskan untuk terus menari. 

Hingga saat ini kemampuan Arif sama sekali tidak berkurang. Bahkan atraksinya tetap memukau para pengunjung Car Free Day di depan Museum Brawijaya setiap minggunya. Disana Arif dan anggota B-Boy Malang Breakin hadir untuk memberikan hiburan kepada pengunjung CFD. Dia juga tetap aktif mengikuti berbagai turnamen breakdance yang diadakan di berbagai kota.

Ketika WartaMalang bertanya apakah dia mengalami kesulitan, Arif berkata bahwa karena dia sudah mengetahui dasar-dasar breakdance jadi dia tinggal menyesuaikan saja. Jadi memang tidak ada kesulitan setelah dia kehilangan kaki kanannya tersebut. Dan Arif juga sangat berterima kasih pada teman-temannya yang sudah memberikan support sampai dia bisa kembali menari lagi.

Arif juga memberikan pesan kepada semua Ngalamers. “Pesannya buat para Breakers atau bukan, cacat fisik apa enggak, intinya jangan pernah putus asa, sabar, giat berlatih, terus berdoa dan berusaha, yain bahwa semua itu takdir selalu ada hikamah di balik peristiwa tetap semangat dan hadapi semua dengan senyuman".

Teruslah menari Kawan. Ceritamu menjadi inspirasi bagi kita semua..

Sumber :
halomalang.com

11 Januari 2016

Adityanta Dani, komika difabel

Adityanta Dani
Adityanta Dani tak pernah kecil hati dengan kondisi fisiknya yang tak normal. Rasa percaya diri dan kemauannya yang keras membuatnya berhasil menembus babak utama (24 besar) Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) di Kompas TV. Namanya sebagai comic (sebutan peserta stand up comedy) sudah berkibar secara nasional.

Kalau saya di-bully, saya bisa terima. Yang tidak bisa terima itu orang tua saya. Pernah suatu saat mama saya mau nyamperin orang yang mem-bully saya, tapi saya larang. Saya takut mama saya nanti kalah, karena orang yang mem-bully saya lebih besar daripada mama saya. Kalau mama saya kalah kan nanti saya malah di-bully lagi. Begitulah sepenggal set up dan punchline penampilan stand up comedy Adityanta Dani.

Nama Adityanta Dani di dunia comic memang belum setenar seniornya di program SUCI Kompas TV asal Malang seperti Arie Keriting, Reggy Hasibuan, dan Abdur. Namun Dani, sapaan Adityanta, sudah menunjukkan potensi besarnya sebagai comic berbakat. Buktinya setiap kali dia tampil, joke-joke yang diangkat selalu segar dan orisinal. Dari sekian materi itu, materi yang berasal dari keresahan hidupnya sebagai seorang difabel lah yang paling sering dibawakannya. Sering aku membawakan cerita-cerita tentang difabel, supaya membuktikan bahwa kekurangan itu juga bisa menjadi kelebihan, kata mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual STIKI Malang itu.

Dia menceritakan, difabel tersebut dia alami sejak umur 5 tahun. Itu akibat kecelakaan mobil bersama keluarganya di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan. Waktu itu, mobil yang kita kendarai masuk jurang, terang dia.

Beruntung, dalam kecelakaan itu semua nyawa selamat. Namun tetap akan diingat oleh Dani, karena akibat kecelakaan itu, dia tak bisa tumbuh layaknya orang normal. Kedua kakinya tak bisa menopang seluruh tubuhnya. Sehingga saat berjalan, dia masih membutuhkan alat bantu penyangga. Tangannya juga seperti itu. Bahkan tutur bicaranya juga tak bisa dilakukannya secara lancar seperti orang normal. Itu semua dia derita, karena saat mengalami kecelakaan, dia berada di bagian depan mobil. Dan terluka paling parah dibandingkan sopir dan ayahnya. 

Hari-harinya setelah mengalami kecelakaan tersebut dilaluinya lebih tertutup. Dia lebih sering menghabiskan waktu-waktu sepulang sekolah dengan membaca buku di dalam kamarnya. Bertahun-tahun menjalani rutinitas tersebut, dia kemudian berinisiatif untuk keluar dari kebiasaan itu. Dan mulai aktif keluar untuk mencari pergaulan baru. Beberapa komunitas yang ada di Malang Raya pernah coba dia ikuti.

Namun sayangnya, karena dia penderita difabel, beberapa komunitas yang didatangi menolaknya. Saya dulu sebetulnya suka sekali dunia fotografi Mas, tapi sayangnya saya ditolak, kenang dia.

Hingga suatu saat ketika dia ngopi bersama rekan-rekannya kuliah, dia menyaksikan penampilan stand up comedy. Dari sanalah kemudian muncul keinginannya untuk ikut dalam komunitas stand up yang ada di Malang. Dani merasa bersyukur, karena komunitas Stand Up Indo Malang dengan tangan terbuka mau menerimanya. Hingga dia resmi bergabung dengan komunitas tersebut pada Agustus 2013 lalu.

Pembelajaran yang dikemas dalam forum diskusi sering dilakukan di komunitas tersebut. Nyatanya, membuat dia lebih memahami dunia stand up comedy. Hingga akhirnya kesempatan untuk tampil di beberapa kampus di Malang dia dapatkan. Dari sana, dia pun kerap memperoleh honor untuk menambah uang jajannya. Hampir setahun menggeluti dunia stand up comedy, orang tuanya tak mengerti sama sekali kegiatan yang dilakukan putra kedua dari lima bersaudara itu. Hingga pada awal Januari lalu, kedua orang tuanya mulai mengetahui bahwa Dani terjun dalam dunia stand up comedy. Waktu lolos audisi itu, orang tua saya akhirnya tahu kalau saya terjun di dunia stand up comedy Mas, kata comic kelahiran 17 November 1991 itu.
Selama menutupi aktivitasnya di dunia stand up comedy itu, Dani selalu meminta izin untuk belajar kelompok. Padahal sebenarnya, dia berkumpul dengan rekan-rekannya di komunitas Stand Up Indo Malang. Dan setelah tahu Dani ikut stand up comedy, orang tuanya mendukung total. Saya sengaja menyembunyikan itu supaya bisa memberi kejutan pada kedua orang tua, terang Dani.

Audisi Stand Up Comedy V yang diselenggarakan Kompas TV itu diikutinya sejak akhir Desember 2014 lalu. Audisi tersebut bukan yang pertama dia ikuti. Karena di tahun sebelumnya, dia juga mengikuti audisi yang serupa. Di tahun sebelumnya, golden tiket dia dapatkan, tapi tidak mendapat konfirmasi dari pihak TV untuk hadir di momen 24 besar yang diselenggarakan di Jakarta. Tahun 2015, baik golden tiket dan konfirmasi secara langsung dia dapatkan semuanya. Dan atas prestasi itu, Dani menjadi satu-satunya wakil comic dari Malang yang berhasil menembus babak 24 besar. Dia berhasil menyisihkan ribuan peserta audisi dari Surabaya, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan Makassar.

Materi lucu untuk tampil live di Kompas TV pun sudah matang. Dia juga mematangkan persiapan dengan melihat tayangan-tayangan stand up di YouTube. Hingga aktif melakukan diskusi mingguan yang dilakukan tiap hari Senin oleh komunitas Stand Up Indo Malang. Tak ketinggalan, dia juga banyak belajar dari dua comic idolanya yang sama-sama difabel. Yaitu Jack Callol dan George Blue, dua orang comic berkebangsaan Inggris yang bernasib sama dengannya.

Melalui kesempatannya untuk masuk dalam 24 besar itu, dia ingin membuktikan bahwa kekurangannya bisa cukup bermanfaat. Bagi Dani, bisa membuat orang tertawa karena materi yang dibawakannya, bukan karena kondisi fisiknya lah yang membuat dia puas. Dunia stand up comedy tersebut juga dipastikan akan digelutinya dengan sungguh-sungguh. Sebab berkat dunia itulah, dia merasa bisa menjadi lebih baik. Dari seluruh kompetitornya yang berjumlah 23 orang, diakuinya mayoritas memang normal. Karena itulah dia sedikit termotivasi untuk bisa membuktikan kepada orang-orang kebanyakan. 

(by/c2/abm)
radarmalang.co.id

24 Desember 2015

Aku Burung Merpati

Aku Burung Merpati

Sebelumnya aku pernah terbang, terbang bersamanya. Namun semua itu telah usai setelah takdir memisahkan kita. Hanya ada kata god, now i'm lonely.

Waktu yang berputar di sekitarku, membuatku semakin menerima keadaan ini. Keadaan yang membuatku ingin terlelap.

Saat ini aku hanya sendiri hanya ada awan gelap. Tak ada bintang dan bulan yang bersinar. Hanya di temani sebatang pohon yang tak berdaun.

Tak berselang lama hujan pun datang "aku sangat kedinginan, aku lapar, aku sendirian, aku hanya punya dua pilihan saat ini Mati Atau Berani" Mati berdiam diri atau Berani lalu mati.


Lalu aku pun berani mencoba terbang, terbang semampuku, terbang sebisaku walaupun hujan dan badai ada di sekitarku saat ini.

Tiba di pohon yang tak berdaun lagi aku pun terdiam pasrah yang akan terjadi saat ini.


Aku pun tak kuat menahan dingin nya malam ini dan tiba saat nya aku terjatuh ke tanah, terjatuh terlelap untuk selamanya tertidur untuk selamanya.


Bagaimana dengan kita? 

Burung merpati itu hanya punya 2 pilihan. Sedangkan Kita punya beribu-ribu pilihan, tapi terkadang kita menolak menjalani sebuah proses yang akan menempa kita untuk lebih kuat lagi, To Live And Survive For A Better Future! 

Alam mengajari, segala sesuatu membutuhkan proses. Proses itu kadang-kadang berupa lelah, kadang-kadang berupa sesuatu yang tidak menyamankan perasaan, sedih, dll. Nggak enak? Ya, tapi semakin kita hadapi dan mau menjalani prosesnya, akan lebih mudah kita mengatasi hal yang sama di masa mendatang. 

Jika kita menjadi seekor merpati, mana yang akan kita pilih, pilihan pertama atau kedua ? Pikirkan juga siapa saja yang akan menanggung akibat dari pilihan yang kita buat tersebut, untuk akhir yang bahagia atau akhir yang lain.


Karya : 
Muhammad Yulianto
www.ayeantho.net

10 Desember 2015

Motivasi Mandiri Disabilitas


Motivasi Penyandang Disabilitas Bisa Mandiri

Kita adalah hambanya yang terlahir sederajat, 
Walau takdir yang berbeda seolah menjadi sekat
apapun keadaan kita miliki
bukanlah sesuatu yang harus ditutupi
bukan pula yang harus diratapi
tetap bersyukurlah kepada Tuhan YME

Yuk.. semangat kita tumbuhkan bahwa kita bisa!
Bisa mendapatkan apa yang kita cita-citakan!

Jangan lupa berdoa dan berusaha
Pasti! kita bisa, amin.

29 Agustus 2015

Wujud cinta sejati Fatima Ahmad

Fatima dan Ahmad
Pernikahan dan berumah tangga adalah hak setiap orang. Bahkan mereka yang memiliki kekurangan secara fisik juga berhak mendapatkan cinta, merasakan pernikahan dan berumah tangga. Kekurangan secara fisik seharusnya tidak menghalangi siapapun untuk bermimpi dan mewujudkan impian. Seperti pasangan suami istri Ahmad dan Fatima, ketika cinta sejati berbicara, hati mereka selalu bersama.

Pernikahan atau hubungan percintaan bukanlah dongeng belaka, ada cinta sejati yang bersemi di dalamnya. Cinta yang benar-benar saling mengerti, saling menerima, dan saling menyayangi. Tetapi, ada juga masalah, kejutan, dan luka yang harus siap Anda terima. Namun ketika mimpi buruk itu datang, bukan berarti pernikahan Anda salah, atau pilihan Anda salah. Itu hanya ujian dan bukan akhir dari perjalanan Anda.

Ahmad dan Fatima adalah pasangan yang baru saja menikah. Tidak ada yang terlalu istimewa ketika membicarakan atau bertemu dengan pasangan yang baru saja menikah. Hanya mereka yang mampu merasakan kebahagiaan itu sendiri. Tapi bagaimana jika dua orang yang sama-sama memiliki kekurangan dipersatukan atas nama cinta dalam sebuah mahligai rumah tangga ?


Pasangan romantis Ahmad dan Fatimah ini merupakan salah satu bukti bahwa cinta itu saling melengkapi, Dua sejoli ini memiliki keterbatasan fisik yang mana sang Istri Ahmad tidak mempunyai kedua tangan dan sang istri Fatimah tidak memiliki kedua kaki. Memiliki kekurangan membuat pasangan ini saling membantu dan saling melengkapi. Ahmad tidak memiliki tangan dan Fatima kehilangan salah satu kakinya. Namun mereka bisa selalu bersama, saling membantu, dan berbagi dengan banyak cara.

Meski begitu pasangan yang sudah menikah dua tahun yang lalu ini hidup layaknya pasangan pengantin suami istri seperti orang - orang lain pada umumnya, Pasangan pengantin ini hidup mandiri dan bisa membuat hidupnya lebih bahagia dengan cara - caranya sendiri.

Masalah - masalah yang sering datang pada pernikahan berhasil di lalui oleh mereka berdua, yang mana termasuk menyelesaikan tugas masing - masing dalam rumah tangga.


Bahkan keduanya terlihat saling mengisi dan melengkapi seperti yang mana fatimah sering membantu suaminya untuk menyisir rambutnya yang terurai panjang dan kadang sering di ikat, sementara Ahmad juga sering membantu Fatimah yang tidak memiliki kedua kaki untuk menjamah sesuatu yang tidak bisa di ambilnya menggunakan tangannya.

Kini kedua pasangan ini hidup mandiri dan tidak mudah meminta tolong dan meminta belas kasihan dari orang lain, Bahkan pasangan ini sudah menemukan kebahagian hidupnya yang mana memiliki pasangan yang benar - benar menerima apa adanya satu sama lain dan juga saling melengkapi.

Ahmad dan Fatimah merupakan kisah cinta yang menggambarkan wujud dari Cinta Sejati dan mereka adalah pasangan yang sangat Istimewa.

11 Agustus 2015

Ahmad Faury Dosen Difabel

Ahmad Faury 
Ahmad Faury lahir di Dusun I Desa Pematang Guntung, Teluk Mengkudu, Serdang Bedagai, Sumatera Utara pada 11 Oktober 1983. Dia bungsu dari 7 bersaudara buah cinta pasangan Satrak (alm) dan istrinya, Ismaini (almh). Hanya, enam saudaranya meninggal sebelum dewasa. 

Sejak dilahirkan, kondisi fisik Ahmad Faury jauh dari sempurna. Kedua lengannya tanpa tangan dan jari. Kedua kakinya juga buntung sebatas betis. Fisiknya yang tidak sempurna tidak lantas membuat Ahmad Faury terus berkecil hati. 

"Saya bersyukur saja. Semakin saya berinteraksi dengan orang, mudah-mudahan orang lain semakin bersyuku".


Rasa syukur Ahmad Faury berbuah manis. Dia mampu mengeyam pendidikan tinggi hingga ke jenjang S3. Padahal semasa hidup ayahnya hanya nelayan pencari kerang dan ibunya penganyam atap.

Si kecil Ahmad Faury memulai pendidikan formal di SD Negeri 2 Pematang Guntung. Layaknya siswa normal, dia lancar menulis. Meski tak punya jari dan telapak tangan, alat tulis dia pegang dengan kedua ujung lengannya.

Lulus dari SD, Ahmad Faury melanjutkan sekolah ke tingkat tsanawiyah dan aliyah di Pesantren Darul Mukhlisin, Sei Rampah, Serdang Bedagai. Tak berhenti sampai di sana, Ahmad Faury melanjutkan studi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara (Sumut) di Kota Medan.

Pertama di Medan agak sulit karena semua jalan beraspal, kaki jadi sakit kalau saya berjalan. Untuk mengurangi sakit, saya pasang dengan tiga lapis kaus kaki, kata Ahmad Faury sambil menunjukkan bagian kakinya yang dibungkus kaus kaki hitam.

Meski kondisi fisiknya tidak sempurna dan terlahir sebagai anak nelayan miskin, Ahmad Faury tetap belajar dengan semangat. Dia beruntung karena mendapat sejumlah beasiswa dan banyak dibantu orang yang bersimpati kepadanya.

Perjuangan Ahmad Faury terbayar dengan kelulusannya pada 2006. Dia meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,51. Waktu diwisuda sedih juga, karena ketika itu ayah saya sudah tiada. Beliau meninggal saat saya kuliah, ucapnya.

Menyadari ketidaksempurnaan fisiknya, Ahmad Faury mantap ingin menjadi akademisi. Karena itu dia nekat melanjutkan studinya pada program Magister Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Setelah tahun pertama menimba ilmu di UGM, Ahmad Faury kembali mendapat berduka. Ibunya Ismaini berpulang. Alhamdulillah, saya yang menjadi imam saat salat jenazah ibu saya. Begitu juga waktu ayah saya meninggal, ucapnya.

Setelah sempat mengambil cuti pascameninggalnya sang ibu, Ahmad Faury meneruskan kuliahnya di UGM . Dia lulus pada 2010 dan berhak menyandang gelar Lex Legum Master (LL.M.).


Dari UGM, Ahmad Faury kembali ke IAIN Sumut sebagai dosen. Dia mengajar Hukum Pidana di sana sejak September 2010. Pemuda ini juga kerap diundang sebagai motivator.

Ahmad Faury tetap tidak berhenti menimba ilmu. Di tengah kesibukannya sebagai dosen, dia kini mengikuti program doktor di IAIN Sumut.

Sempat putus asa

Di masa pendidikannya, Ahmad Faury bukannya tidak pernah tertekan dan kecewa. Dia bahkan sempat menuding Allah tak adil.

Bila teringat kejadian itu, Ahmad Faury mengaku merasa sangat bersalah. "Kalau teringat, saya langsung mohon ampun. Bayangkan, saya sempat menuding Allah tak adil," ujarnya.

Kekecewaan Ahmad Faury muncul saat belajar di Pesantren Darul Mukhlisin, Sei Rampah, Serdang Bedagai. Dia merasa tertekan dengan keadaan fisiknya saat melihat teman-temannya bermain sepak bola dan aktif pada kegiatan pramuka.

"Waktu itu saya langsung masuk ke masjid di pesantren. Saya bicara sendiri dan bilang 'Allah tidak adil', ceritanya. Tapi saya mendadak mengantuk dan akhirnya tertidur di sana. Begitu terbangun, saya seperti terlahir kembali. Semangat berkobar-kobar dan saya jadi sangat yakin bisa menghadapi hidup seperti orang lain. Rasanya tak ada yang kurang pada diri saya," katanya.

Benar saja, saat berkomunikasi Ahmad Faury memang mengesankan dirinya sangat percaya diri. Kecuali soal sistem negara yang belum berpihak kepada kaum difabel, tidak sekalipun dia berkeluh kesah mengenai kekurangan fisiknya. Dia bahkan terlihat sangat lincah dan bersemangat saat menunjukkan cara menaiki sepeda motor roda tiga miliknya.

Teman-temannya pun menilai Ahmad Faury sebagai sosok yang percaya diri. Orangnya pede. Dia enggak mau dikasihani. Waktu kami kuliah dulu mana mau dia dibantu naik angkot atau naik ke boncengan sepeda motor," kata Ismail Haska, seorang teman kuliahnya di IAIN Sumut.

Ahmad Faury telah membuktikan ketidaksempurnaan fisik bukanlah penghalang mengarungi kehidupan. Baginya, semua itu hanya cobaan.

Dia bahkan menilai cobaan itu sebagai bentuk perhatian Allah SWT. Kalau kita diberi cobaan berarti Dia memperhatikan kita. Cobaan itu diberikan karena kita mampu, ucapnya.

Dari cobaan yang dialaminya bersama keluarga, Ahmad Faury pun mencoba membuat kesimpulan. Allah itu nakal, tapi tidak kejam, ucapnya sambil tertawa.

Sumber : merdeka.com

17 Juni 2015

Marhaban Ya Ramadhan

"Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu juga dibukakan pintu Surga serta ditutupnya pintu-pintu Neraka." (HR. Ahmad).

Banyak hal yang mesti dipersiapkan sebelum kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, agar ibadah puasa kita tidak sia-sia. Sebagaimana peringatan dari Rasulullah, bahwa : "Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga." (HR. Ahmad).

Dalam kesakitan teruji kesabaran, dalam perjuangan teruji keikhlasan, dalam ukhuwah teruji ketulusan, dalam tawakkal teruji keyakinan, hidup ini amat indah jika Allah menjadi tujuan.

Kami segenap keluarga Gerakan Kembali Berjalan mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan dan kami meminta maaf atas segala kesalahan dan kekurangan kami.

Semoga Ramadhan ini membuat kita Kembali Suci, Kembali Bersih, sampai akhirnya kita Kembali Fitri.. Amin..

15 Juni 2015

Difabel pendaki Semeru dan Rinjani

Irfan Ramdhani
Sepasang tongkat kini tak pernah jauh dari Irfan Ramdhani sejak kakinya lumpuh. Irfan sempat membayangkan tak lagi bisa mendaki gunung, arung jeram, susur goa, hingga panjat tebing yang menjadi kegemarannya selama ini.

Pada waktu bersamaan ia juga diputus cinta oleh sang kekasih. Namun pria ceria ini tak mau berlama-lama larut dalam kesedihan. Irfan kembali menjadi petualang alam meski di tengah keterbatasannya.

Sepasang tongkat itu akhirnya menemani Irfan mendaki Gunung Semeru, Jawa Timur dan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Tak hanya bagi Irfan, dua gunung itu memang diidamkan para pendaki. Gunung Semeru merupakan gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa dan Gunung Rinjani adalah gunung tertinggi kedua di Indonesia. Tak ada yang menyangkal, kedua gunung itu menyuguhkan karya indah Sang Maha Pencipta.

"Dalam benak sempat terlintas, apa bisa saya naik gunung lagi saat bertemankan setia dengan tongkat ini? Ah, sebenarnya itu tidak baik dibicarakan karena perkataan adalah doa. Jadi saya hanya yakin dan yakin agar bisa menggapainya," ujar Irfan saat berbincang bincang dengan Kompas.com.


irfan-diving
Irfan Ramdhani latihan diving sekaligus terapi untuk kakinya di laut Nusa Penida, Bali bersama Bali International Diving Professional (BIDP). (Dok Irfan Ramdhani)

Kerinduan Irfan bercengkrama dengan alam membuatnya bertekad kuat untuk mendaki lagi. Untuk pertama kalinya ia mendaki Semeru dan Rinjani, sekaligus dalam keadaan lumpuh. Meski harus pakai sepasang tongkat, mengapa tidak?

Jalan seperti kepiting hingga digendong

Menjajal medan pegunungan dengan tongkat untuk menopang kaki yang berjalan tentunya berbeda. Gunung Semeru berketinggian 3.676 mdpl adalah gunung pertama yang ia daki dengan tongkat itu. Tiba di kaki Gunung Semeru, Irfan terdiam sejenak mengumpulkan kembali tekadnya. Mahameru yang menjulang tinggi seakan terus memanggilnya dan menambah energi semangat itu.

Berada di kaki Gunung Semeru sudah membuatnya tertegun. Irfan tak menyangka bisa berada di sana yang sebelumnya hanya ada dalam lamunan dan mimpi dalam tidurnya. Sembari membayangkan Mahameru dan indahnya danau Ranu Kumbolo, Irfan terus meyakinkan diri dalam hati. Kedua tongkat itu dijepit kencang pada ketiaknya.

"Saat pertama kali menginjakkan kaki serta melangkahkannya di gunung itu saya terdiam sejenak dan mendongakkan kepala ke atas agar bisa menghirup udara segar yang merasuk kedalam otak saya. Dalam hati saya berdoa," ucap pria kelahiran 26 April 1990 itu.

Tak selalu mengapit tongkatnya, Irfan juga harus mengesot ketika mendapati medan yang menanjak atau curam. Ketika jalan menurun, Irfan harus meluncur dengan hati-hati. Bahkan ia harus berjalan miring seperti kepiting ketika melewati jalur yang sempit dan di sisi kiri atau kanannya terdapat jurang.

"Kalau dulu sebelum saya memakai tongkat, saya bisa berlari-lari saat mendaki gunung. Tapi ketika dengan kedua tongkat, saya harus ekstra hati-hati," katanya.

Di sana, Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Gunadarma itu ditemani sahabatnya Fernando Halim serta teman-teman sesama Mapala setempat, Sonic, Dagrombes, dan Peot. Sepanjang jalan ia bersyukur karena banyak bertemu pendaki lain yang ikut membantu. Irfan menceritakan, hampir setiap pendaki berjabat tangan padanya dan menepuk bahunya untuk memberikan semangat untuk bisa sampai atas.

Cerita Irfan pada pendakian di Rinjani yang baru saja dilakukannya bulan Mei 2013 ini juga tak kalah menarik. Pada gunung yang memiliki ketinggian 3.726 mdpl itu, Irfan mencapai Danau Sagara Anak melalui jalur Torean.

Jalur yang cukup ekstrem baginya membuat pendakian Irfan yang ditemani Salmon dan Sevis dari Grahapala Rinjani memakan waktu 12 hari untuk naik dan turun gunung Rinjani. Waktu tempuh itu lebih dari biasanya.

"Saya melewati sungai, menyisir tebing dengan tali webing yang dijadikan harnest full body, ditambah carabiner untuk pengaitnya. Saya full ngesot melewati suatu punggungan di atas sungai," paparnya.


irfan-rinjani
Saat jalur curam atau terjal, Irfan harus mengesot. (Dok Irfan Ramdhani)

Irfan harus dibopong ketika melewati punggungan, juga digendong meniti jalur sungai dengan bebatuan tak beraturan. Hal terberat bagi Irfan, saat kaki kirinya tidak bisa digerakkan dan membengkak. Saat itu, Irfan harus mengesot dalam perjalanan pulang dari Danau Segara Anak melalui jalur Sembalun.

Keterbatasan bukan hambatan
Irfan lumpuh karena terjatuh dari dinding panjat pada ketinggian 10 meter, Maret 2010. Dia jatuh menyentuh aspal dalam posisi duduk yang menyebabkan bagian pinggang hingga kaki tak bisa digerakkan.

Sebelum memakai tongkat, pria yang kerap disapa Pancong itu sempat hanya duduk di kursi roda. Beruntung, Irfan terus mendapat dukungan dari sang ibunda, Ilis dan orang sekitarnya. Bahkan dari orang yang digemarinya yaitu Riyanni Djangkaru, seorang diver yang pernah membawakan acara petualangan di stasiun televisi swasta.

Melalui Riyanni, Irfan kini menjalani terapi untuk kakinya dengan diving di Bali International Diving Professional (BDIP).  Di sana ia bertemu para penyelam dari Yayasan Senang Hati yang juga memiliki keterbatasan sepertinya.

Petualangan demi petualangan baru terus dijajakinya. Kini, ia pun telah mengantongi sertifikat diving. Irfan juga tak pernah absen menceritakan pengalamannya yang rencananya akan dibukukan dengan judul "Tabah Sampai Akhir".

Irfan berharap dapat kembali berjalan normal meski saat itu ada dokter yang menyatakan ia akan lumpuh selamanya. Mimpinya menjelajahi alam Indonesia tak pernah padam. Ia ingin mendaki gunung es hingga menyelam di surga bawah laut, Raja Ampat, Papua.


irfan-dipapah
Irfan (tengah) dibantu Nando dan Boby melewati jalur di Gunung Semeru. (Dok Irfan Ramdhani)

"Jika pikiran saya bisa membayangkannya, hati saya bisa meyakininya. Saya tahu akan menggapainya jadi berpikirlah positif dan bermimpilah kawula muda, para petualang. Jagalah mimpi-mimpi itu agar bisa menjadi nyata. Keterbatasanku tidak membatasiku untuk menembus batas, karena keterbatasan bukan suatu hambatan dan bahwa tabah bukan di awal, tabah juga bukan di pertengahan, tapi tabah sampai akhir," papar Irfan.

Sumber : Kompas

26 Mei 2015

Pelatihan Exel Untuk Difabel

Dengan duduk di kursi rodanya, Ketut Sudianti, 28 tahun, menggerakkan tetikus (mouse) di tangannya. Dia berusaha menjumlahkan angka-angka di kotak-kotak program Excel di laptopnya. Dua perempuan lain, Putu Ita Puspitasari, 20 tahun, dan Eka Suandewi, 23 tahun, berada di kanan kiri Sudianti. Ketiganya adalah penyandang difabel.
Sabtu siang lalu mereka merupakan bagian dari 13 difabel lain yang sedang belajar mengoperasikan Excel, program yang biasa dipakai terutama untuk keuangan. ”Kami belajar agar nanti biasa mengoperasikan kalau kerja,” kata Sudianti yang diiyakan Ita dan Eka.
”Ini pengalaman pertama kami belajar Excel. Tapi kami pasti bisa. Yang penting kan niatnya,” tambah Ita. Dia terlihat sudah biasa mengoperasikan komputer tersebut.
Bagi ketiga difabel tersebut, keterbatasan tubuh bukan penghalang. Meski harus duduk di kursi roda, atau menggerakkan kursor dengan tangan kiri, dan seterusnya, mereka terlihat bersemangat mengikuti pelatihan yang diberikan Bali Blogger Community (BBC) selama sekitar empat jam tersebut.
Sekitar 12 peserta itu pun belajar tentang bagaimana memasukkan, menjumlahkan, atau mengalikan angka-angka yang dituliskan di papan. Mereka berada di ruangan berbentuk L seluas kira-kira 4x 8 meter persegi di gedung Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Badung yang juga kantor Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (Yakkum) di Abiansemal, Badung. Peserta didampingi anggota BBC yang membimbing cara menggunakan program tersebut.
Pelatihan tesebut merupakan bagian dari Kursus Singkat Menuju Kerja yang diadakan Yakkum Bali, Yayasan Senang Hati, dan Yayasan Bunga Bali. Tiga lembaga pendamping difabel di Bali ini bekerja sama dengan lembaga lain seperti BEDO dan VSO Indonesia mengadakan pelatihan selama tiga bulan.
Dayu Windiyani, pengurus Yayasan Senang Hati yang mewakili panitia pelatihan mengatakan pelatihan tersebut terdiri dari dua hal penting yaitu soft skill seperti motivasi diri dan hard skill seperti keterampilan komputer, memasak, dan seterusnya. ”Kami ingin memberi bekal agar teman-teman kami siap bekerja,” kata Dayu.
Materi yang diberikan, menurut Dayu, berdasarkan pengalaman difabel lain yang sudah bekerja. Misalnya tentang apa saja kemampuan yang sering dibutuhkan oleh perusahaan penerima kerja. Pengalaman ini diperkuat hasil riset masing-masing organisasi terkait dengan kemampuan difabel yang sesuai kebutuhan perusahaan.
Dari sinilah pelatihan kemudian dibuat dengan menekankan pada kemampuan seperti Bahasa Inggris, Komputer, dan semacamnya tersebut. Materi itu kemudian disampaikan lebih banyak dalam bentuk praktik langsung. ”Target kami pada Januari nanti para peserta pelatihan sudah siap untuk training ke perusahaan-perusahaan,” ujar Dayu.
Peserta pelatihan sejak 8 September hingga 28 November itu adalah penyandang difabel dari tiga yayasan tersebut. Pesertanya diseleksi dari berbagai daerah seperti Karangasem, Tabanan, Klungkung, dan daerah lain.
Adapun pemateri pelatihan berasal dari berbagai relawan. Salah satunya adalah anggota BBC yang memberikan pelatihan tentang komputer, terutama tentang program Excel. ”Kami senang karena bisa membagi ilmu yang kami harap dapat membantu meningkatkan kapasitas teman-teman difabel,” kata Agus Sumberdana, anggota BBC.
BBC sendiri memang mempunyai kegiatan Berbagi Tak Pernah Rugi. Kegiatan ini berupa pelatihan tentang teknologi informasi baik komputer maupun internet yang diberikan pada komunitas-komunitas seperti sekolah alternatif, banjar, dan sekarang kalangan difabel. Karena itulah ketika diajak oleh panitia untuk memberikan pelatihan, BBC segera menerimanya.
”Bagi kami berbagi adalah sebuah konsep menyisihkan sedikit waktu, sumber daya yang kami miliki dan dipadukan dengan beberapa orang sehingga akan lebih banyak orang yang berdaya,” ujar Agus.

sumber : balibloger.org

12 Mei 2015

Roda Joko Partono Terus Berputar


Roda nasib pasti berputar seperti kursi rodaku yang selalu berputar menggapai impian, Jangan pandang sebelah mata difabel, aku memang tak sama dan tidak sempurna tapi aku bisa! aku punya semangattt dan kemauan untuk maju serta punya cita2 yang tinggi. Aku memang tak sempurna karena itu aku disebut manusia. Difabel itu superrr! jangan minder! biarkan orang lain meremehkanmu, tapi jangan biarkan dirimu meremehkan diri sendiri.

11 Mei 2015

Monang, difabel pengrajin rumah berbie

Bpk Monang
Satu lagi kisah kesuksesan seorang difabel datang dari kisah seorang pria asal Medan bernama Monang. Di tengah keterbatasannya yang tak bisa berjalan karena harus diamputasi akibat kecelakaan, Monang kini telah menjadi salah satu pengusaha mandiri di Medan. Ia mulai memproduksi rumah miniature Barbie sejak tahun 2002 bekerjasama dengan teman-temannya. Biasanya, Monang memproduksi sekitar 30-40 rumah selama sebulan. Permintaannya pun datang tak hanya dari Medan, tapi juga dari luar pulau Sumatera. Monang menawarkan rumah-rumah tersebut mulai dari harga Rp 350ribu – Rp 800 ribu. Selain itu, ia juga memproduksi kuda-kudaan dan mobil-mobilan.

Untuk bisa sesukses sekarang ini, Monang telah melalui banyak perjuangan. Awalnya, ia pernah menjadi atlet bagi orang cacat di bidang tenis. Dengan tabungannya selama menjadi atletlah Monang bisa membangun usahanya hingga sekarang ini. Pernah usahanya juga mengalami kerugian akibat kebakaran. Namun, Monang tetap bersyukur ia dan keluarganya bisa selamat dan masih bisa kembali mendirikan usahanya seperti sekarang ini.

Sumber : kisahmotivasi.com

10 April 2015

Motifasi Diri Untuk Penyandang Disabilitas Dan Pandangan Masyarakat

Para penyandang disabilitas hendaknya selalu memupuk motivasi diri agar mampu mengoptimalkan potensi dan kompetensi dirinya di tengah keberagaman opini masyarakat. Ada sebagian masyarakat yang menaruh simpati dan mendukung secara nyata terhadap kaum difabel. Namun tak banyak pula masyarakat yang mencemooh keberadaan mereka dan menganggap sebagai aib yang harus dijauhi dari pergaulan. Padahal kita sadar bahwa tidak ada satu pun manusia yang meminta terlahir dengan kondisi difabel.
Kisah berikut saya harap bisa membantu teman-teman penyandang disabilitas dalam menanggapi isu disabilitas dan pandangan masyarakat agar mereka lebih termotivasi hidup. Ketika kehilangan kemampuan kedua matanya,Abdullah bin Abbas menyadari bahwa dirinya akan menghabiskan sisa umurnya dalam keadaan tidak bisa melihat. Dia berpikir akan terkungkung di balik kegelapan dalam melihat hidup dan kehidupan ini. Namun dia tidak meratapi nasibnya yang malang, justru dia menerimanya dengan penuh keridhaan dan mengecilkan arti derita yang ditanggungnya. 
Tidak diragukan lagi, kesulitan-kesulitan hidup ini akan terasa ringan dan lapang jika disikapi dengan optimis. Kemampuan dalam menghadapi kesusahan hidup para penyandang disabilitas dan pandangan masyarakat, serta kemampuan untuk mengalahkan kesulitan-kesulitan adalah lebih utama dan bermanfaat daripada perasaan-perasaan yang penuh dengan keluhan yang melanda sebagian manusia.
Penulis : Agus Siswoyo

31 Maret 2015

Agus Sugiarto Difabel Penjual Pulsa Keliling

Agus Sugiarto Difabel Penjual Pulsa Keliling
Kelemahan atau kekurangan seringkali membuat seseorang menjadi tidak berdaya untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya. Hal tersebut kadang membuat kita tidak mau menerima kelemahan, bahkan berusaha untuk menutupi kelemahan tersebut di hadapan orang lain dengan segala macam cara. Bahkan secara umum kita dilatih secara tidak sadar untuk menolak kelemahan dan mengagungkan kekuatan atau kelebihan kita.

Orang yang berfikir bahwa kekurangan adalah musibah, maka dia tidak akan pernah menemukan potensi diri dibalik kekurangan itu.

Ada satu kisah menarik serta inspiratif yang saya temui di daerah sekitar Jepara ketika saya sedang jalan-jalan pagi, Minggu, 1 Maret 2015. Satu kisah refleksif yang bisa menjadikan inspirasi bagi kita untuk lebih bersyukur menerima dengan apa yang kita miliki sekarang ini.

Saya bertemu dengan penjual pulsa yang memiliki kekurangan secara fisik, namun dengan kekurangan itu tidak menjadikan dia sebagai halangan untuk berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Agus Sugiarto (26) warga asli Jawa Timur yang sekarang menetap di Demaan, Jepara, Jawa Tengah tinggal bersama keluarganya.

Kegiatan Agus sehari-hari sebagai penjual pulsa keliling daerah jepara kota mulai dari jam 10 pagi hingga 5 sore dengan mengayuh kursi roda. Untuk sabtu malam minggu dia selalu berjualan di sekitar alun-alun Jepara mulai jam 7 malam. Jadi bagi yang lagi ngumpul bareng teman dan kehabisan pulsa jangan khawatir, kalian bisa temui Agus di sekitar alun-alun.

Cara berjualan dia adalah mengayuh kursi roda dengan kedua tangan. Ketika kita hendak membeli pulsa, kita sendirilah yang menuliskan nomer di ponsel agus. Untuk jelasnya seperti pada gambar yang saya ambil dengan Smartphone.
Pecinta lagu 'Jangan Menyerah' Dmassive band ini berwajah ramah, tidak pernah bosan untuk memberikan senyuman ramah pada pembeli yang datang padanya.

Menurut sumber yang saya temui, selain berjualan pulsa, Anak dari seorang tukang kebun di salah satu SMP demaan Jepara ini adalah seorang muazin di masjid daerah tempat ia tinggal. Sungguh luar biasa.

Kita semua perlu belajar dari kisah yang dialami Agus. Marilah kita bercermin atas kondisi diri kita sendiri. Untuk selebihnya, jangan pernah menganggap remeh orang lain siapapun itu.

Penulis :
Marken Nainggolan
@markenpay

30 Maret 2015

Gadis Cantik Menikahi Pria Berkursi Roda

Xiao Dan & Kong Chuan
Kemajuan teknnologi sangat dimanfaatkan betul oleh Mahasiswi cantik berusia 22 tahun Xiao Dan dan pemuda berkursi roda Kong Chuan yang usianya satu tahun lebih tua darinya. keduanya berkenalan melalui aplikasi pesan singkat WeChat. Bermula dari perkenalan di jejaring sosial tersebut kini kedua pasangan tersebut resmi menikah dan hidup bahagia.

Lalu bagaimana mumgkin ini bisa terjadi ? apakah Xiao Dan merasa tertipu saat chatting karena ternyata sang kekasihnya adalah pemuda berkursi roda ?

"Kong Chuan tidak seperti teman-teman lain yang aku kenal saat online. Dia sosok yang menakjubkan dan kami sering chatting hingga larut malam," kata Xiao Dan dikutip dari laman Mirror.co.uk Kamis 12 Februari 2015.

Kong Chuan
Xiao Dan mengatakan, dia chatting dengan Kong Chuan karena pandai bermain piano dan wajahnya mirip selebriti asal Taiwan, Jay Cho. Xiao Dan mengaku tidak menduga jika Kong Chuan cacat dan sedikit terkejut saat mengetahuinya.

Namun selama chatting dengan Kong Chuan, Xiao Dan kagum dengan pandangan hidup Kong Chuan yang selalu optimis. Xiao Dan juga merasa terinspirasi oleh tekad yang luar biasa dari Kong Chuan untuk berhasil, terlepas dari kondisi fisiknya. Xiao Dan begitu terkesan dengan semangat hidup yang ditunjukkan Kong Chuan.

"Aku tidak menganggap diriku optimistis. Aku hanya tahu kemana aku melangkah dan meraih apa yang aku inginkan," kata Kong Chuan.

Kong Chuan merasa sangat bahagia Xiao memilih dirinya sebagai suaminya.

"Aku sebenarnya tidak pantas untuknya. Tapi aku berjanji akan membuatnya terus bahagia."

Xiaon sedang merawat Kong Chuan
Pasangan yang sedang dirundung asmara ini kini tinggal di rumah keluarga Kong di kota Guangzhou, Guangdong, Tiongkok. Xiao mengatakan dia akan mencari pekerjaan dan pindah ke rumah mereka sendiri sehingga bisa merawat suaminya dengan baik.

(psw/gkb)

21 Maret 2015

Daniel Melville The Stars Wars Man

Daniel Melville
Terlahir tanpa satu tangan membuat Daniel Melville kesulitan menjalani kesehariannya. Tapi semuanya bisa ia atasi berkat tangan bionik cetakan printer 3D yang membuat pria 23 tahun ini mendapat julukan pria star wars.

Ya, dalam trilogi Star Wars, tangan salah satu tokohnya, Luke Skywalker dipotong oleh musuh, Darth Vader yang merupakan ayahnya sendiri. Apalagi mengingat dalam film tersebut Luke mirip dengan sang ayah yang memiliki tungkai bionik.

Tangan bionik yang digunakan Daniel tak lepas dari peran ahli robotika Joel Gibbard yang mengusahakan agar Daniel tak kesulitan lagi ketika beraktivitas. Dengan menggunakan sensor 3D, Joel hanya butuh waktu 20 menit untuk pemindaian lengan Daniel.

Kemudian, dalam 40 jam tangan bionik itu sudah berhasil di cetak. Sudah pasti, atas apa yang ia dapatkan Daniel merasa bahagia meski tangan bionik yang ia gunakan menurut dia rasanya seperti menggunakan sarung tangan.

"Selama ini aku lelah menunggu perubahan pada tanganku. Aku harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan soket. Aku tidak bisa membayangkan jika tangan ini bisa kuperoleh sejak masih muda," kata Daniel

"Aku merasa nyaman-nyaman saja menggunakan tangan power ranger, tangan star wars, atau apapun sebutan bagi tangan ini yang penting aku bisa lebih mudah melakukan sesuatu. Ada banyak tangan robotik yang dijual di luar sana tapi harganya sangat mahal," imbuh pria yang berdomisili di Reading ini.

Tangan bionik Daniel dipercaya adalah tangan 'pasangan' pertama yang dicetak dengan printer 3D. Joel yang merupakan pendiri Open Bionics di Bristol berharap tahun depan dirinya bisa menghasilkan lebih banyak produk prostetik untuk membantu orang-orang yang kehilangan anggota tubuhnya, terutama tangan.

"Ada kepuasan tersendiri ketika saya berhasil menciptakan tangan ini. Melihat Daniel bisa menulis dan mengangkat sesuatu membuat saya bangga. Saya telah merancang sejumlah prototipe lain untuk bisa membantu lebih banyak orang," tutur Joel.

(rdn/vit)